BAJU ADAT BILI'U
Pakaian kebesaran adat Gorontalo terdiri atas pakaian wolimomo yang dipakai pada pelaksanaan akad nikah dan, saat duduk bersanding pakaiannya adalah bili’u untuk pakaian pengantin wanita dan paluala untuk pakaian pengantin pria. Bili’u merupakan pakaian adat yang dipakai atau digunakan oleh pengantin wanita saat duduk bersanding setelah melaksanakan akad nikah. Karena merupakan pakaian kebesaran adat saat duduk bersanding maka pakaian ini merupakan pakaian wajib bagi pengantin wanita yang melaksanakan upacara perkawinan dengan kebesaran adat Gorontalo. Sejak zaman kerajaan dulu bilu’u adalah busana kebesaran untuk permaisuri raja yang di sebut ti Mbu’i. Secara etimologi bili’u berasal dari kata ‘biluwato’ artinya yang diangkat dengan kemuliaan. Seorang permaisyuri raja diberi gelar ti Mbu’i Biluwato yang berarti ratu yang dimuliakan. Dimuliakan karena sehubungan dengan suaminya adalah olongia atau raja (penguasa negeri).
Proses pembuatan pakaian adat bili’u dilakukan dengan cara menenun kain terlebih dahulu yang dilakukan dengan cara melihat dan langsung mempraktikkannya. Sudah menjadi kebiasaan adat dalam masyarakat Gorontalo bahwa seorang perempuan harus bisa menenun kain, membuat kain dengan hiasan karawo (mosuji), karena pada setiap acara adat yang akan dilaksanakan nanti tidak terlepas dari pakaian adat yang salah satunya yaitu kain tenun untuk pembuatan bili’u yang diwajibkan dalam adat Gorontalo. Hal itu berlangsung pada awal abad ke-16 ketika orang belum mengenal kain dengan corak tenunan moden seperti sekarang. Selanjutnya yakni menyiapakan aksesoris berupa plat kuningan, plat kuningan ini bisa dibeli di toko bangunan dengan tebal 2.5mm. Selanjutnya dibuatkan pola sesuai dengan model dan bentuk dari masing-masing aksesoris kemudian plat kuningan yang sudah dibentuk pola tadi di ukir selanjutnya plat kuningan tadi dibakar untuk selanjutnya di sepuh dengan sepuhan perak begitu seterusnya sampai pada sepuhan emas. Plat yang sudah disepuh tadi kemudian di tempelkan/dijahit pada kain yang akan dibuatkan baju Bili'u sesuai dengan ketentuan adat. Begitupun aksesoris Kepala dililitkan pada Kayu dan Gabus yang sudah dilapisi dengan kain beludru warna hitam. Cara pembuatan dan penghiasan pakaian kebesaran Bili’u memperhatikan penempatan unsur-unsur dari pakaian yang meliputi baya lo boute, lai-lai, pangge moopa, pangge, tutuhi, huli, duungo bitila, huwo’o, dan taya yang masing-masing memiliki nilai dan makna filosofi yang mendalam. Baya lo boute yaitu bentuk ikat kepala yang memberikan dua pengertian bahwa sang ratu telah terikat suatu tanggung jawab dan segala hasil pemikiran sang ratu harus bermanfaat untuk kepentingan rakyat. Lai-lai artinya bulu unggas yang dietakkan di atas ubun-ubun. Bulu unggas ini dikiaskan pada kehalusan budi pekerti dimana hendaknya seorang ratu harus memiliki budi pekerti yang luhur sebagaimana halusnya bulu-bulu unggas. Lai diberi warna merah dan putih sebagai lambang keberanian dan kesucian. Pangge moopa artinya tangkai-tangkai yang rendah yang berjumlah 6 tangkai unsur kerajaan Gorontalo, yaitu (1) ti Tapa; (2) ti Huangobotu; (3) ti Padengo; (4) ti Biawa’o; (5) ti Pulubala; dan (6) ti Botupingge. Hal demikian diikuti pula oleh kerajaan Limboto dengan 6 unsur yang terdiri dari Baate (pemimpin adat), Wu’u (wakil Baate) dan 4 orang Kimalaha (raja kecil), yang masing-masing terdiri dari (1) ti Hungayo, (2) ti Dunito; (3) ti Botu; dan (4) ti Ipilo. Dalam pengertian ini sang ratu berewajiban untuk selalu menerima pertimbangan-pertimbangan mereka selaku aparat bawahan. Pangge artinya tongkat sebanyak 4 buah yang menghiasi bagian belakang Bili’u yang mengartikan bahwa sang ratu berkewajiban menerima pendapat dan nasihat dari 4 olongia (raja), yaitu untuk kerajaan Gorontalo masing-masing Raja Hunggina’a, Raja Bilinggata, Raja Uwabu dan Raja Lupoyo. Mereka berempat ini disebut Wolihi Pato’o Data. Selanjutnya untuk kerajaan Limboto masing-masing terdiri dari Raja Dunggala, Raja Tibawa, Raja Utomilito, dan Raja Butaiyo yang disebut Pato’o tongga lo lipu. Tutuhi artinya galah, sebanyak 7 buah yang panjangnya lebih dari yang lain. Tutuhi diibaratkan pada dua kerajaan yang bersaudara yaitu Hulontalo-Limutu, Limutu-Hulontalo, serta lima kesatuan kerajaan, yaitu : Tuwawa (Suwawa), Limutu, Hulontalo, Bulango dan Atinggola. Hubungannya dengan sang ratu, menghargai kerajaan lainnya sebagai kesatuan U duluwo lo u limo lo pohala’a.



Comments
Post a Comment